Tumbuh di dataran tinggi vulkanik dan dibentuk oleh keahlian lintas generasi, teh Indonesia membawa lebih dari sekadar rasa. Ia membawa tempat, penghidupan, dan kemungkinan.
Negeri dengan teh yang istimewa, dibentuk oleh tempat dan manusia.
Di dataran tinggi vulkanik Indonesia, udara sejuk, tanah subur, dan pengetahuan lintas generasi menghasilkan teh dengan warna, aroma, kekuatan, dan rasa akhir yang khas. Dari perkebunan mapan hingga kebun rakyat dan pengolah spesialti yang berkembang, setiap asal menawarkan ekspresi Indonesia yang berbeda bagi pembeli dan mitra internasional.
Skala, keragaman, dan momentum yang tumbuh.
2024118,895 t
produksi teh tercatat
202440.55%
volume dihasilkan perkebunan rakyat
202526,891 t
ekspor teh hitam curah
20251.9%
pangsa ekspor teh dunia
Siapa yang menghasilkan teh?
2024
40.55%Perkebunan rakyat
39.43%Perkebunan negara
20.02%Perkebunan swasta
Jejak lahannya
97,539 ha
luas area teh pada 2024
Wilayah utama
79.21%
area teh berada di Jawa Barat
88.1%
Ciri khas ekspor
volume ekspor teh pada 2024 merupakan teh hitam curah
Momentum pada 2024
+2.05%
pertumbuhan produksi dari 2023
5
provinsi utama penghasil teh
Nusantara mengubah cita rasa.
Dari punggung vulkanik Sumatra hingga cekungan pegunungan Jawa yang sejuk, ketinggian, hujan, tanah, dan praktik setempat memberi setiap asal suara yang berbeda.
Empat bentang. Satu arsip hidup.
Sumatra UtaraSidamanik
Lanskap dataran tinggi bersejarah
JambiKayu Aro
Teh di bawah cakrawala vulkanik
Jawa BaratGambung & Pangalengan
Jantung teh Indonesia
Jawa TengahWonosobo
Kebun tinggi dan peluang baru
Indonesia tidak memiliki satu cita rasa teh.
01
Teh hitam ortodoks
Karakter daun utuh yang dibentuk melalui penggulungan, oksidasi, dan sortasi yang cermat.
02
Teh hitam CTC
Seduhan kuat dan konsisten yang dibuat untuk kekuatan, warna, serta efisiensi peracikan.
03
Teh hijau
Ekspresi segar dan vegetal yang kejernihannya bergantung pada penanganan cepat dan presisi.
04
Teh putih & spesialti
Teh lot kecil yang membuat kultivar, tempat, dan pilihan pengolah berbicara lebih jelas.
Dipetik dengan tangan. Ditentukan oleh keahlian.
Teh mulai berubah sejak dipetik. Waktu panen, kondisi pucuk, dan setiap pilihan dalam pelayuan, penggulungan, oksidasi, pengeringan, serta sortasi membentuk apa yang akhirnya tiba di cangkir. Sebagian besar pekerjaan itu dilakukan oleh perempuan dan melalui pengetahuan yang dipelajari selama bertahun-tahun. Nilainya harus tetap terlihat.
Teh menjadi bernilai ketika kisahnya tetap utuh.
Kebun
Ketinggian, hujan, tanah, kultivar, dan pengelolaan mulai membentuk cita rasa.
Pucuk
Panen yang peka waktu membawa bukti pertama tentang mutu dan asal.
Pengolahan
Keputusan di pabrik mengubah pucuk segar menjadi ekspresi yang khas dan konsisten.
Pasar
Pengakuan tumbuh ketika asal, mutu, dokumentasi, dan cerita bergerak bersama.
Biarkan asal berbicara. Biarkan nilai bergerak.
Masa depan teh Indonesia bergantung pada kemampuan menghubungkan pengetahuan petani dan pengolah dengan apa yang dapat dilihat serta dipercaya pembeli. Pencatatan yang lebih baik dapat membawa mutu, asal, dan pengelolaan bersama setiap pucuk, agar lebih banyak nilai kembali kepada manusia dan tempat yang menciptakannya.